Kue Ulang Tahun Ajaib

Kepada, Yth.
Kamu yang sedang berulang tahun hari ini
di-
tempat

Bersama dengan ini, saya kirimkan sebuah kue ulang tahun. Perlu diperhatikan bahwa kue ulang tahun ini bukan kue ulang tahun biasa. Sebab, kue ini dibuat menggunakan bahan-bahan alam pilihan. Langit, bulan, ombak dan senja. Dan dipanggang menggunakan api yang langsung diambil dari matahari dan dihias menggunakan sepotong pelangi yang muncul setelah hujan bulan November reda.

Lanjutkan membaca

Iklan

Percakapan 4 Asbak

Hari ini adalah pagi dimana Krei merenungi nasibnya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia terus menghujat diri sendiri. Menjadi asbak paling kecil membuatnya tersiksa. Ia merasa malu, dengan tiga temannya yang sejak Desember tahun lalu menjadi teman satu atap, di sebuah gubuk bata, di utara Kabupaten Malang.

Krei bertubuh paling mungil di antara ketiga temannya, Roni, Glee dan Caka. Ia selalu bermimpi tubuhnya bisa bertambah besar. “Namun apa mungkin? Tidak!” Begitu dialog sehari-hari dari Krei kepada alam pikirnya.

Lanjutkan membaca

SI KUCING MELAWAN TAKDIR

Malang, 19 November 2013 – Hidup di rumah mewah, mungkin anugerah bagi manusia. Tidak bagiku yang bukan manusia. Aku hanya seekor kucing, manja dan terkurung di dalamnya. Entah kapan ku dilahirkan dulu, ketika sadar, aku telah ada di tempat ini. Sungguh menyedihkan, aku hewan tak mampu pilih takdirku.

“Kenapa aku ini? tidakkah Kau dengar jeritku, Tuhan?” Selali ini ku katakan. Tapi tak pernah di jawabnya. Ah, sungguh pelik rasa di hati. Ku iri terkadang, dengan kucing-kucing lain di luar. Berlari-lari mereka, terlihat bahagia, tak terkurung mereka di sangkar, tak terkekang peraturan. Miris tapi untukku, terjebak di sebuah rumah, dengan satu majikan, banyak peraturan. “Hanya boleh ini, itu, ini, itu, bla bla bla….” siapa pula tidak tertekan? Sudah terkurung di sangkar, terkekang aturan. Betapa miris hidupku.

Aku melihat, banyak kucing lain berkeliaran di luar. Hanya ku lihat, lewat jendela pula, tak mampu untuk bersama mereka. Jika saja jendela bicara, mungkin ia tertawa lihat ekspresiku itu. “hahaha..” atau “ckckckck..” mungkin itu bunyinya. “Kenapa ya Tuhan?” tanyaku, dan masih tak terjawab. Di angkat lagi tubuhku oleh nyonya besar. Selalu, dan selalu aku alami itu setiap ku lihat dunia luar lewat jendela. Tiada hari ku lewati, tanpa mencari celah untuk ke luar. Bentuk iriku dengan makhluk sejenisku yang liar. Ingin sekali ku coba, hidup tanpa tekanan.

Lanjutkan membaca

PERPISAHAN NUSANTARA

Malang, 11 November 2013 – Namaku adalah Nusantara. Aku adalah seorang mahasiswa Indonesia. Kampusku berada di daerah selatan Pulau Jawa, tepatnya di Kota Malang. Tidak perlu pikirku menyebutkan nama kampusku ini. Karena menurutku, tidaklah penting dimana aku berada, justru yang terpenting adalah apa yang telah aku lakukan di tempatku berada.

Mungkin karena nama pemberian orang tua, aku menjadi sangat mencintai negaraku ini. Nusantara memang sebutan yang biasa digunakan untuk menyebut negaraku ini, Indonesia. Sejarahnya, di zaman dahulu, Kerajaan Majapahit  memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, bahkan sampai ke benua yang sekarang dikenal dengan Benua Afrika. Majapahit memberikan nama-nama ke  setiap wilayah kekuasaan, Indonesia salah satunya yang diberi dengan nama Nusantara. Nusantara, berarti kepulauan yang berada di antara dua benua. Hingga akhirnya bangsa Eropa menemukannya dan memberi namanya dengan Indonesia.

Di luarnya, aku memang benar-benar sangat mencintai Nusantara ini. Kadang aku justru tertawa, bila sepintas aku terpikir “Nusantara mencintai Nusantara”. Sungguh kalimat yang agak lucu bagiku. Tapi apa daya? Memang sebuah nama itu memiliki kekuatan yang sangat kuat untuk membentuk sifat pemilik namanya. Mungkin memang karena namaku ini, aku punya perasaan itu sekarang, perasaan cinta terhadap Nusantara.

Lanjutkan membaca

KAU HANYA MAHASISWA

-Malang, 11 September 2012-

Tak selangkah pun kau di depan raga sang massa

Peluang sarjana tak tunjuk kau jadi raja

Kau hanya sampah yang terolah

Dipungut oleh-Nya tuk jadi berguna

Kau hanya perusak angkasa raya

Penghuni neraka yang mengaku fitrah

Darah saudara sembahkan tuk nirwana

Iblis tertawa, dirinya kau anggap bidadari surga

Stratamu tak beda dengan yang lainnya

Hanya berjubah wacana buatmu merasa bangga

Kau tak indah, tak pula sempurna

Untuk apa kau hadirkan pesona, tanpa gerak mulia

Lanjutkan membaca

CINTA SANG PRIA, DALAM DERET PUISI

Malang, 01 November 2013 – Pernah kau bahagia dalam cinta? Pernah pula kau sulit dibuatnya. Cinta tak semudah kau melangkah, tidak sesulit kau melihat punggungmu juga tapinya. Ya, cinta tidak mudah, tidak pula sulit, bukan karena dia biasa saja. Tapi, karena tak akan pernah kau tahu, dimana batas bawah dan atasnya.

Ini adalah sebuah kisah sisi lain tema cinta. Bukan dalam latar yang bahagia, ini benar sisi lain cinta. Dimana cinta, sebuah alat untuk membentuk luka, duka pun mampu dibuatnya. Kukatakan lagi, cinta memang tidak mudah, meski tidak sulit pula. Untuk para pria, kau pasti pernah merasa. Saat dimana kau dilema dengan cintamu, saat kau selalu yang salah, saat kau jadi aktor, dan kau jadi korbannya. Ya, pria memang selalu salah, itulah yang biasa kau rasa, hai para pria. Jujurlah padaku, bahwa kau akhirnya yang selalu akan merasa:

AKU SALAH”

Kau marah.

Tanya dalam hati, kenapa kau marah?.

Tanya padamu, kenapa kau marah?

Ternyata aku salah, Ku telah berlaku salah.

Maafkan aku kasih, aku yang salah.

Membuatmu marah.

Lanjutkan membaca

AKU ADALAH KECEWA

Malang, 31 Oktober 2013 – Ada apa ini? Segalanya buta. Terbutakan oleh luka lama. Oh, tidak tahu juga, masih mungkin sih dibutakan luka yang baru terbentuk. Ah, sudahlah, luka lama atau baru pun sama saja. Mereka sama-sama luka, tidak enak rasanya, tak ada manusia menginginkannya. Tapi, apa boleh buat? Luka terbentuk sudah, bersemayam di antara gelisah. Gelisah para insan yang sadar, sadar butanya.

Berbeda rasa ini dengan yang dulu, beda pula pikirnya. Dulu tidak ada rasa bergejolak mirip saat ini. Dulu hanya ada sebuah rasa, bukan bahagia, bukan pula kesedihan, tapi rasa itu bukan kecewa. Sekarang? Kecewa jadi kulitku, meresap lewat pori-pori, selimuti organ tubuhku, dan berubahlah ia menjadi Aku. Ya! Aku adalah kecewa.

Lanjutkan membaca