Ketika Saya Lupa tentang Kenangan-Kenangan Manis Bersama Perpusnas RI

Perkenankan saya untuk sedikit bercerita mengenai pengalaman saya saat sedang mengakses situs resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia. Meski dalam cerita kali ini, saya akan sedikit bertingkah seperti sebagian wanita pada umumnya.

Barangkali para pria sepakat, kesalahan kecil yang dilakukan pria terhadap wanita, otomatis akan memanggil kembali kenangan-kenangan buruk di masa lalu. Serta, melupakan segala bentuk kenangan manis yang pernah dilakukan bersama.

Lanjutkan membaca

Iklan

Basa-Basi Tahunan

Khutbah 45 menit tentang segala makna “kemenangan” di hari lebaran berakhir. Para jamaah membentuk barisan dan bersalam-salaman. Kenal atau tidak, yang penting telapak tangan masih sempat untuk saling menggenggam. Bibir sedikit bercakap mengucap permohonan maaf. Disusul dengan pelafalan dua kata: lahir dan batin.

“Mohon maaf lahir dan batin”.

Lanjutkan membaca

DON JON: SAAT MANUSIA HIDUP DALAM FANTASI

Jujur saja, awal mula ketertarikan menonton film ini karena banyak adegan-adegan seksual. Lebih terbuka daripada film-film Hollywood lain yang tidak bisa menembus batas etika bangsa Indonesia. Setelah melihat trailernya, dorongan hewani terpendam memurka liar. Segera saja cari-cari pemilik film ini, dan kebetulan salah satu teman menawarkan harddisk eksternal miliknya. Sumringah! Saya dapatkan apa yang saya cari sejak kemarin: Film Don Jon. Langsung saja copy dan paste ke folder film ‘belum ditonton’, artinya Don Jon masuk dalam daftar film yang akan saya tonton di kemudian hari, entah kapan.

Lanjutkan membaca

SAAT GUNUNG KELUD MBLEDOS: ANTARA RELAWAN DAN CITA-CITA MENGAJAR

Malang, 9 Maret 2014 – Kemarin lagi, saya jadi relawan Gunung Kelud. Sekarang lokasinya di SDN Pandansari 4, Dusun Sedawun, dusun terakhir di Malang. Perjalanan cukup menantang, kala itu pertama kalinya saya lewat jalur lahar dingin, rusak, berpasir, dan berair. Karena pakai motor bebek, perjalanan jadi terganggu sebentar, “seru ini kalau pakai motor trail,” seruku pada teman bersepeda, sambil bayang-bayangkan keseruannya juga.

Lanjutkan membaca

MAHASISWA, BANGSA DAN PERSATUAN (BAG. II)

Sayidiman Suryohadiprojo barangkali sedang berpuas hati, opininya diterbitkan di Kompas edisi hari ini. Yang menarik perhatian adalah tema kepancasilaannya, beliau ambil ide dari Soekarno, tentang bentuk sederhana dari pancasila, eka sila: gotong royong. Sangat menyentuh hati, opininya seputar gambaran umum bangsa ini. Beberapa gambaran sering saya luapkan dalam tulisan, salah satunya berbicara seputar mahasiswa dan persatuan.

Lanjutkan membaca

GOYANG OPLOSAN DAN PSIKOLOGI MASSA

Hari ini, acara puncak Dies Natalis FISIP Universitas Brawijaya sedang diselenggarakan. Meriahnya acara membuat banyak masyarakat FISIP UB terbawa euforia sorak-sorai kegembiraan. Sayang, bukan ini yang menjadi titik berat saya dalam menulis artikel. Karena, sulit untuk saya yang telah termakan duka cita menjadi mahasiswa menilai acara yang kurang inovatif ini, dalam kacamata subjektif.Acara puncak ini diselenggarakan dalam bentuk jalan sehat, dengan pembukaan makan bersama (re: gratis) dan sedikit hiburan bernyanyi bersama di atas panggung. Nah, di acara bernyanyi dan bergoyang bersama inilah terdapat momen yang menarik perhatian saya.

Lanjutkan membaca

HAKIKAT MANUSIA BERTAHAN DAN INTROPEKSI

Malang, 04 April 2014 – Berapa banyak kesalahanmu? Berapa banyak luka orang lain yang kamu sebabkan? Siapa saja orang-orangnya? Apakah ada sebuah kehancuran yang kamu sebabkan? Dan berapa kali kamu merasa bertanggung jawab karenanya?
Bukankah kamu manusia, yang jelas-jelas tak luput dari kesalahan? Sehingga, yang harus kau lakukan adalah mencari kesalahan itu, untuk dibenahi, bukan ditutup-tutupi. Tidak seperti selama ini, kau tutup-tutupi dengan cara cari-cari objek lain sebagai pihak paling bersalah. Hingga ‘kambing hitam’ benar-benar dianggap banyak orang sebagai dalang, dan kau bangga terbebas dari penghakiman orang lain atas sebuah kenyataan yang kau perbuat.

Barangkali terlalu ekstrim ilustrasi di atas untuk menggambarkan topik dalam tulisan yang akan ku bahas ini. Tapi, jujur saja, memang sulit angkat sebuah topik yang kau tahu tidak akan ada yang bisa menerimanya. Bukan karena tidak sesuai, tapi ada yang merasa terhakimi dan terpojokkan, sehingga melakukan pertahanan diri (lagi) dengan penolakan terhadap subtansi tulisan ini. Dan mudah sebenarnya, bila ingin tuangkan apa yang ku pikirkan tentang topik ini. Namun, bila saja ku sampaikan dengan gamblang tanpa pengantar, tak akan hasilkan struktur yang jelas. Karena apa yang akan ku katakan disini, bukanlah suatu ide yang tiba-tiba muncul, melainkan konsep usang, membentuk pola selama hampir 22 tahun saya hidup, waktu singkat untuk menjalani dinamika, fluktuasi, dan pahit manisnya hidup. Ialah INTROPEKSI, sebuah refleksi kehidupan.

Lanjutkan membaca