Percakapan 4 Asbak

Hari ini adalah pagi dimana Krei merenungi nasibnya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia terus menghujat diri sendiri. Menjadi asbak paling kecil membuatnya tersiksa. Ia merasa malu, dengan tiga temannya yang sejak Desember tahun lalu menjadi teman satu atap, di sebuah gubuk bata, di utara Kabupaten Malang.

Krei bertubuh paling mungil di antara ketiga temannya, Roni, Glee dan Caka. Ia selalu bermimpi tubuhnya bisa bertambah besar. “Namun apa mungkin? Tidak!” Begitu dialog sehari-hari dari Krei kepada alam pikirnya.

Ia sudah lima tahun menjadi seorang asbak berkepemilikan. Majikannya, adalah laki-laki muda asal Surabaya, berambut keriting dengan tinggi tak sampai 165 centimeter. Laki-laki itu membeli Krei dari seorang pengrajin kerang di sebuah Pantai Malang Selatan.

Di dunia perasbakan, siapa yang membeli dan membawa pulang asbak, dialah sang majikan. Para asbak harus menghormati majikan mereka. Itu norma tak tertulis yang sudah turun temurun diwariskan. Bisa jadi, itu ketidaksadaran kolektif dari asbak yang bila merujuk pendapat Carl Jung, otomatis sudah ada pada setiap kelahiran.

Demikian pula dengan Krei. Ia menghormati majikannya. Segenap tenaga ia curahkan agar sang majikan puas dengan pelayanannya. Namun, tubuhnya yang mungil membuat ia merasa tak mampu memberikan pelayanan prima. Majikannya sering dibuat lelah, karena tak sampai habis satu bungkus, tubuhnya sudah terisi penuh dan tak mungkin menampung putung rokok lagi.

Itulah yang sering mengganggu pikiran Krei dan membuatnya merenung. Hingga, pada suatu ketika, renungannya buyar oleh suara berat mirip Don Corleone dalam Trilogi God Father. Sumber suara itu adalah Roni, asbak berukuran paling besar di antara tiga asbak lainnya.

BW

Majikan Roni adalah pemuda asal Solo, yang juga merupakan kawan dari majikan Krei. Tubuh Roni yang besar, membuatnya tak hanya mampu menampung puntung rokok. Majikannya juga sering menaruh bungkus kopi sachet di tubuhnya, kemudian dibiarkan berhari-hari sampai akhirnya tubuhnya penuh juga.

“Kenapa kau diam saja, Krei!” sapa Roni.

“Ah, oh, eh, tidak kenapa-kenapa,” Krei menggagap, masih berusaha mengumpulkan konsentrasi untuk menjawab pertanyaan Roni.

Roni cuma diam. Ia penasaran, sekaligus cemas melihat teman mungilnya dalam beberapa hari belakangan sering melamun dan bengong-bengong sendiri. Rasa cemas ini juga menyelimuti perasaan Glee. Asbak bertepian pipih itu menduga-duga, bahwa Krei mulai merasa tidak percaya diri lagi.

“Sudah, kamu tak perlu berkecil hati. Tubuhmu memang paling kecil, namun kami bertiga sebenarnya iri kepadamu,” sahut Glee, coba menenangkan Krei yang masih kelimpungan setelah lamunannya buyar.

Krei agak bingung. Pernyataan yang terlontar dari bibir Glee, seolah-olah menunjukkan kalau Glee mengerti apa yang tengah ia pikirkan. Akan tetapi hal lain justru lebih membingungkan baginya. Krei mempertanyakan kalimat “kami bertiga sebenarnya iri denganmu” dari mulut Glee. Sifat rendah diri membuat Krei tak mampu mencerna apa yang dimaksud oleh Glee.

“Apa yang patut kalian irikan dari tubuh mungil ini?” ungkap Krei, berusaha menjawab rasa penasarannya.

Glee segera menjawabnya, mencoba mengurangi kecemasan yang dialami Krei. “Kau artistik, tak seperti asbak pada umumnya. Kau mewakili zaman Postmodernisme, dimana estetika adalah segala-galanya” urai Glee.

Jawaban Glee tak membuat kecemasan Krei berkurang. Ia masih menunjukkan wajah bingung atas jawaban tersebut. Ya, wajah bingung sebongkah asbak, yang barangkali tak akan pernah diketahui manusia. Karena bagi manusia, lebih baik sibuk memperkaya diri, daripada harus mencari tahu dimana letak wajah asbak.

Melihat teman mungilnya kebingungan, Glee menjelaskan dengan lebih perlahan. “Begini Krei, tak sama denganmu. Bentuk kami bulat, bedanya aku memiliki tepian pipih, sedangkan tepian Roni tegak lancip”.

“Itu keren,” Krei memotong Glee yang sedang bicara.

“Tidak!” nada Glee meninggi. Ia terbawa emosi karena Krei tetiba memotong pembicaraannya yang belum selesai. “Ratusan juta asbak diproduksi menyerupai bentuk kami. Apakah kami bisa dibilang keren, ketika ada ratusan juta asbak yang mirip kami di dunia ini?”

Krei tenggelam ke dalam rasa bersalahnya. Ia cuma merunduk, terkejut melihat ekspresi kesal dan suara keras Glee atas pernyataannya barusan.

Roni yang mengamati drama bantah-membantah mereka berdua, mencoba menengahi “Berbanggalah pada dirimu sendiri, Krei. Kau dipilih majikanmu, bukan karena sebuah keberuntungan semata,” ia mengungkapkan dengan intonasi rendah, tetap dengan suara berat a la bos mafia dalam film-film fantasi.

Meski Krei tetap merunduk, Roni tetap melanjutkan, “manusia bodoh mana, mau berlama-lama memilih asbak di ritel-ritel kota, sedangkan ada ratusan asbak lainnya yang sama persis menyerupai bentuk kami?”.

Pertanyaan yang membuat Krei lebih penasaran dan membuat kepalanya sedikit mengangkat. Meski begitu, kebingungan masih belum bisa lenyap dari wajah Krei. Hanya saja kali ini ia tak berkata-kata. Roni menilai kalau Krei khawatir ia akan ikut kesal bila Krei ikut bertanya kepadanya.

“Manusia,” lanjut Roni yang terkesan acuh pada kekhawatiran Krei, “tidak akan mendatangi swalayan hanya untuk membeli asbak. Sekalipun ada dari salah satu kami yang dibeli, itu hanya karena manusia tersebut kebetulan lewat dan tak sengaja teringat bahwa asbak di rumahnya sudah rusak”.

“Itu betul,” tetiba Glee menyatakan keberpihakannya pada Roni. Emosinya mereda, suaranya kembali biasa, ekspresi kesal sudah tidak lagi terlukis di wajahnya. Glee berhasil menenangkan dirinya selagi Roni berusaha mencairkan hati Krei.

Pandangan Krei beralih ke Glee. Dalam hatinya ia berdoa kecil, semoga Glee sudah tidak marah lagi. Krei dengarkan satu demi satu kalimat yang dijelaskan oleh Glee. Seraya sesekali mengamati raut wajah dan bahasa tubuhnya. Membuat ingatan tentang kehidupan Glee kembali memenuhi isi kepala.

Glee adalah asbak yang paling sering digunakan oleh penghuni rumah. Tepiannya pipih, bisa menjadi tempat untuk menaruh rokok yang masih menyala. Ukurannya memang tak sebesar Roni, namun kapasitasnya tak harus membuat sang majikan mengosongkan tubuhnya setiap hari.

Ia sudah diproduksi sejak tujuh tahun lalu. Ada ratusan ribu jumlah asbak yang persis seperti Glee pada masa itu. Produsen Glee membawa sebagian dari asbak tersebut ke sebuah swalayan di bilangan Kota Malang.

Selama satu tahun lebih, Glee tinggal di salah satu rak, di lantai tiga swalayan bersama ratusan saudara kembarnya. Semakin hari, jumlahnya berkurang. Para manusia yang kebetulan lewat di rak itu mengambil satu per satu saudara kembar Glee. Sedangkan Glee, hanya menunggu kapan gilirannya tiba.

Pada pertengahan tahun 2010,  masa penantiannya berakhir. Seorang pemuda berperawakan kurus, berkulit hitam dan belakangan diketahui berasal dari Jakarta, membeli dan membawanya pulang. Bagi Glee, itu sebuah kebetulan.

Proses keterpilihannya, hanya sebuah keberuntungan. Calon majikan Glee memilihnya tanpa melalui proses pertimbangan yang panjang. Hanya butuh empat detik pria itu menatap Glee, hingga akhirnya ia diambil dan dimasukkan ke dalam keranjang belanjaan.

“Lalu, apakah berarti aku dipilih karena kualitasku? Tidak. Tatkala banyak asbak sepertiku, dengan spesifikasi dan kepadatan kaca yang sama, keterpilihanku tak lain adalah sebuah keberuntungan,” ujar Glee.

Roni kembali angkat suara. Ia melontarkan pendapat mengenai Krei yang proses keterpilihannya, ia nilai lebih mulia dibanding dirinya dan Glee.

“Sedangkan kau Krei”, kata Roni, “kau tak dibentuk paksa dalam pabrik. Alam yang membentukmu menjadi seperti asbak. Bila alam yang membuat, tak mungkin ada asbak kerang yang rupanya sama persis denganmu”.

Mendengar itu Krei cuma bisa mengangguk-angguk keheranan. “Itulah mengapa kami anggap kau keren dan sebenarnya kami bertiga iri kepadamu,” sambung Glee.

“Atau memang ada kembaranmu, tapi jumlahnya tak ratusan ribu seperti kami. Hanya satu atau dua, itu pun ada di pantai Inggris dan bisa jadi tak sempat lahir sebagai asbak,” Roni menambahi.

Krei cuma diam melongok. Kedua temannya baru saja menunjukkan kebijaksanaan yang selama ini tak pernah mereka perlihatkan. Bibirnya terlalu berat untuk berucap sepatah kata sekalipun, juga terlalu kaku sampai-sampai terlihat bergetar kedinginan.

Pesan dari kedua temannya, seolah menjadi tamparan keras bagi Krei yang selama ini tak henti-hentinya merendah diri. Ia baru sadar, sudah sepatutnya asbak merasa bangga dengan dirinya sendiri-sendiri.

Asbak tidak perlu mengurusi apakah dirinya lebih baik daripada asbak lain. Tugasnya hanya berbakti kepada sang majikan, melacurkan tubuh mereka untuk menampung sisa tembakau dari para manusia yang mengaku tak bisa hidup tanpa rokok.

Membandingkan asbak satu dengan asbak lainnya, hanya menimbulkan perang antar asbak. Perbedaan bentuk dan rupa asbak, seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Setidaknya, dunia perasbakan lebih mulia dibandingkan dunia manusia yang terus berperang lantaran perbedaan.

“Hei!” suara berat Roni kembali membuyarkan lamunan Krei. “Masih saja kamu melamun. Tak perlu kau merasa ditampar atas petuah bijakku,” Roni mulai menunjukkan gurauan congkaknya.

Glee tak mau kalah congkak dengan Roni. “Hahaha, kau merasa tertampar bukan? Itulah keajaibanku, tak punya tangan saja masih bisa menamparmu,” ejek Glee.

Hati Krei mulai tenang, suasana yang tadi sempat memanas karena lamunannya yang membuat kedua temannya cemas, kembali mencair. “Kalian berdua memang pantas jadi asbak besar, persis seperti mulut kalian yang juga suka omong besar!” Krei balas mengejek. Ketiganya pun terlarut dalam gelak tawa.

Baik Krei, Glee dan Roni memang sering bercanda ketika sedang berkumpul bersama. Tidak, bukan cuma bertiga. Bersama Caka, mereka juga masih sering bergurau. Ke empatnya memang baru akhir tahun lalu dipertemukan, tapi hubungannya lebih harmonis daripada para majikannya yang sudah saling kenal bertahun-tahun lalu.

Sebab, empat majikannya itu ketika berkumpul lebih sibuk mengurusi timeline media sosial di layar ponsel masing-masing daripada meluangkan sedikit waktu untuk berbagi cerita. Meminjam istilah keren yang pernah disampaikan Caka kepada ketiga temannya, “manusia itu individualis”.

Lain hal dengan keempat asbak. Setelah bertahun-tahun masing-masing dari mereka hanya memiliki satu majikan, setelah berada di satu atap tak ada lagi asbak satu untuk majikan satu. Mereka berempat sepakat untuk menganggap ke empat manusia yang ada di rumah tempat mereka tinggal adalah majikannya, meskipun dua di antaranya tidak merokok.

“Bukan satu untuk semua atau semua untuk satu, tapi semua untuk semua,” begitu bunyi kesepakatan antara keempat asbak, saat hari pertama mereka dipertemukan. Kesepakatan itu yang membuat tak ada dendam di antara mereka berempat.

“Woi! Kalian sedang membicarakan apa?” Caka mendadak memecah percakapan Krei, Glee dan Roni. Ketiganya terkejut dan hanya terdiam melihat Caka yang sedari tadi sedang melayani salah satu majikan, bekas majikan Krei, di depan teras rumah kontrakan.

Caka masih merasa bingung kelimpung atas ketidaktahuannya terhadap topik yang sedang dibicarakan. Sedangkan Krei, Glee dan Roni, malas menceritakan ulang apa yang telah ketiganya obrolkan.

“Kenapa pada diam? Apa yang kalian sedang bicarakan. Boleh kan aku ikutan?”

“Pertanyaan macam apa itu Cak?” balas Roni sambil memicingkan mata dan mengerutkan dahi. “Buat apa kamu tanya boleh ikutan apa tidak? Jelas boleh. Kamu ini seperti orang asing saja,” lanjut Roni.

Caka cuma tertawa kecil dan menunjukkan giginya, senyum yang terkesan dipaksakan. “Jadi, kalian bicara apa?” ucapnya masih penasaran.

“Barusan kami bercerita tentang dunia perasbakan, serta asal muasal kami,” kata Krei menengahi.

Krei terdiam dan memikirkan perkataannya barusan. Ia bertanya-tanya dalam diri sendiri, barusan mengatakan asal muasal. Sedangkan Caka, asbak yang ada di hadapannya, juga termasuk asbak dengan bentuk yang tak biasa, tabung tanpa tepian untuk menaruh rokok.

Kebingungan itu Krei sampaikan kepada Roni dan Glee dengan berbisik, mengabaikan Caka yang masih memasang wajah polosnya, karena tak tahu apa sebenarnya yang barusan terjadi.

Mendengar informasi dari Krei, Roni dan Glee jadi ikutan bingung. Ketiganya mencoba berpikir keras, menerka-nerka sejarah perasbakan demi menemui asal muasal Caka sebagai asbak. Glee, Roni dan Krei memang tak pernah tahu siapa majikan Caka. Sebab, saat mereka datang ke rumah yang sekarang ditinggalinya, Caka sudah berada di sana lebih dulu.

Bagaimana Caka dilahirkan? Darimana asalnya? Kenapa bentuknya aneh? Kenapa Caka bisa memiliki tubuh paling tinggi di antara tiga asbak lainnya? Kenapa tepian asbak Caka tak menyediakan tempat untuk sang majikan menaruh rokoknya? Pertanyaan bertubi-tubi menghujani pikiran mereka.

“Ya, barusan kami bercerita tentang dunia perasbakan dan asal muasal kami bertiga. Tapi, sekarang kami justru penasaran dengan asal muasalmu. Sebenarnya, kamu berasal dari mana Cak?” tanya Glee, menyerah atas segala upaya menjawab sendiri pertanyaan mengenai asal muasal Caka.

Kebingungan justru melanda Caka. Ia tak mengerti maksud ketiga temannya. Tapi, seperti biasa, ia memiliki ide cemerlang. Enggan pura-pura tidak tahu lagi, maka Caka yang senang menjadi pusat dalam setiap percakapan, angkat bicara.

“Kita buat kesepakatan. Ku ceritakan mengenai asal-muasalku, setelah itu kalian ulangi percakapan yang kalian lakukan barusan”

“Sepakat!” Glee langsung ambil keputusan sepihak.

Roni dan Krei hanya saling tatap. Meski tak bersuara, mata mereka berdua saling berkata, “Oke, menceritakan ulang percakapan barusan itu urusan Glee. Setelah mendengar cerita Caka, kita tinggal pergi mereka berdua. Sepakat”.

Kesepakatan sepihak dari Glee, membuat Caka ambil posisi untuk bercerita, “Jadi begini, kalian tak akan mengerti tentang apa yang aku ceritakan. Sebab, sebelum masuk ke dunia perasbakan, aku tinggal di dunia percangkiran, dunia yang tak pernah kalian singgahi”.

“Apa itu dunia percangkiran?” tanya Glee, keheranan memotong perbincangan Caka yang belum tuntas. Krei memicingkan mata pada Glee dan bergumam dalam hati, “tadi perbincanganmu kupotong kamu marah, sekarang kau memotong pembicaraan orang lain”

“Dunia percangkiran, adalah dunia dimana kalian bisa merasakan lembutnya bibir wanita. Kalau tak terbiasa, kalian akan cepat menegang karena terangsang,” lanjut Caka disusul gelak tawa dia sendiri, tanpa tawa ketiga temannya. “Ah, kalian tak akan mengerti leluconku karena kalian tak pernah masuk ke dunia percangkiran,” Caka bergumam, geram melihat tak ada yang menanggapi leluconnya.

“Maka, ceritakanlah dunia percangkiran itu,” kata Glee.

Caka kembali membenahi duduknya. Krei, Roni dan Glee mempersiapkan posisi untuk menjawab segala keingintahuan mereka tentang dunia percangkiran. Percakapan baru dengan topik baru pun dimulai dengan penuh penasaran-penasaran baru yang tak pernah habis dari waktu ke waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s