Ketika Saya Lupa tentang Kenangan-Kenangan Manis Bersama Perpusnas RI

Perkenankan saya untuk sedikit bercerita mengenai pengalaman saya saat sedang mengakses situs resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia. Meski dalam cerita kali ini, saya akan sedikit bertingkah seperti sebagian wanita pada umumnya.

Barangkali para pria sepakat, kesalahan kecil yang dilakukan pria terhadap wanita, otomatis akan memanggil kembali kenangan-kenangan buruk di masa lalu. Serta, melupakan segala bentuk kenangan manis yang pernah dilakukan bersama.

Begitu juga yang sedang saya rasakan kali ini. Sebuah peristiwa kecil saat mengakses situs resmi Perpusnas beberapa hari lalu, membuat saya mengingat berbagai kenangan buruk yang pernah dilakukan sumber literasi terbesar di negeri ini.

Semua ini bermula ketika saya sedang mencari referensi jurnal (NB: bukan buat kepentingan skripsi) di e-resource.perpusnas.go.id. Saat itu, saya mengalami sebuah kendala untuk masuk ke halaman utama akun saya: Lupa Password.

Sebagaimana umumnya, orang-orang yang biasa mengalami masalah ini, website dengan fasilitas user login selalu menyediakan solusi ketika pengguna mengalami lupa mendadak. Akan ada beberapa prosedur yang harus ditempuh untuk mengganti password lama menjadi password baru.

Prosedur ini sudah saya tempuh dan memakan waktu hampir satu jam. Waktu yang cukup lama untuk prosedur yang seharusnya mudah dilakukan: klik “Lupa Password” – masukan nomor anggota dan email – cek inbox pesan dari website bersangkutan – klik link yang disediakan  – password lama siap diganti dengan password baru.

Sayangnya, berbagai prosedur itu terhambat ketika saya mengecek email notifikasi dari website keanggotaan perpusnas. Beberapa kali mengklik “lupa password”, email notifikasi tak kunjung masuk ke inbox. Ternyata eh ternyata, masalah disebabkan email notifikasi dari website keanggotaan Perpusnas, masuk ke folder “spam” yang disimbolkan dengan “tong sampah”

Cukup mengherankan, email dari badan resmi negara sekelas Perpusnas masuk ke folder Spam email, bersamaan dengan email notifikasi berisi iklan produk pembesar alat kelamin pria, tawaran mencari jodoh, serta pemberitahuan kalau ada video bokep terbaru di situs porno langganan saya.

Lantaran menurut saya itu tidak penting, awalnya saya abaikan. Tapi, setelah prosedur penggantian password selesai saya lakukan, saya dipertemukan kembali pada sebuah kesalahan kecil dari situs Perpusnas RI ini.

Muncul notifikasi pop-up tanda penggantian password lama ke baru selesai. Pemberitahuannya seperti ini:

“Password telah dirubah”

Sediksi

Sontak saya terkejut dengan mata terbelalak melihat notifikasi pop-up keluar dari layar komputer pinjaman ini. Jantung berdebar-debar, layaknya pria yang sedang mengungkapkan perasaan terpendam ke wanita yang menarik hatinya sejak lama. Pikiran pun menjadi kacau, sekacau pikiran pria yang ajakan keluarnya baru saja ditolak wanita.

What? Bukankah kalimat “Password telah dirubah” itu seharusnya ditulis “Password telah diubah”?. Kenapa kok sumber literasi skala negeri ini, bisa-bisanya melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Antara “diubah” dengan “dirubah”, jelas berbeda satu sama lain. Kata dasar “diubah” adalah “ubah” bukan “rubah”.

Sebab, seingat saya, rubah itu tokoh hewan bernama Sweeper dalam kartun anak Dora The Eksplorer. Bukankah Sweeper itu tokoh yang dikenal sebagai pencuri? Apakah itu berarti password akun keanggotaan Perpusnas saya telah dicuri? Tidak!

Saat itu mencoba berpikir jernih dan akhirnya, huft, saya lega. Saya mengetahui kalau password saya bukan dicuri. Ternyata, situs milik badan resmi negara ini memang khilaf melakukan kesalahan kecil berupa kesalahan dalam menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya.

Penulisan kata “diubah” menjadi “dirubah” memang sering terjadi di kalangan masyarakat. Saya masih bisa memaklumi kalau kesalahan itu dilakukan masyarakat Sebab saya dan para penulis Sediksi lainnya, juga sering melakukan kesalahan dalam penulisan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tapi, bila ini dilakukan oleh badan yang seharusnya menjadi sumber masyarakat dalam mencari wawasan dan ilmu pengetahuan? Apakah ini hal yang wajar? Jawaban saya kembalikan ke para pembaca.

Penulisan kata “diubah” menjadi “dirubah” pada dasarnya merupakan kesalahan yang amat sangat kecil, sama kecilnya dengan notifikasi email yang masuk ke folder “spam”. Akan tetapi, karena sedari awal tulisan ini saya ingin berperan seperti wanita, maka saya akan melakukannya.

Berbagai kenangan buruk yang pernah dilakukan Perpusnas RI tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya. Mula-mula, saya teringat tentang sikap Perpusnas RI saat menyikapi pemusnahan buku “kiri” alias komunisme.

Saat itu, Kepala Plt Dedi Junaedi mengatakan, mendukung gerakan untuk membumihanguskan buku kiri dari Perpusnas. Menurut saya, ini tindakan kekanak-kanakan. Perpusnas RI adalah gudang informasi dan sumber literasi. Sedangkan komunisme, adalah salah satu ideologi besar dunia yang telah beranak-pinak ke berbagai bentuk ideologi lainnya.

Lalu, apakah karena isu komunisme dibuat seolah-olah mengkhawatirkan oleh berbagai pihak, Perpusnas juga ikut termakan isu ini? Apakah anak negeri tidak boleh mempelajari komunisme, salah satu paham besar di dunia? Ataukah hanya paham liberalisme atau kapitalisme saja yang boleh ada di tanah air beta? Sungguh kekanak-kanakan.

Sang Maestro Dedi Junaedi juga tak konsisten, menyikapi berita di media massa dan sosial keesokan harinya. Satu hari setelah berita dukungan Perpusnas terhadap pemusnahan buku kiri menjadi piral, Dedi membantah kalau Perpusnas akan membumihanguskan buku-buku kiri.  Sungguh, sikap yang labil dari kepala gudang informasi dan sumber literasi anak negeri ini.

Kenangan buruk tentang Perpusnas masih belum berhenti sampai disitu. Akibat  kesalahan berbahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya, saya juga kembali mengingat, masa-masa dimana Perpusnas RI tunduk dalam rezim Orde Baru.

Kerasnya perlawanan terhadap lawan politik pemerintah pada saat itu, membuat ratusan judul buku dilarang beredar, termasuk pada Perpusnas. Anehnya, alasan yang digunakan bukan alasan akademis, namun politis.

Beberapa buku karya Pramoedya Anantha Toer seperti Tetralogi Buru dan Arus Balik, Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia, Di bawah Bendera Revolusi, Menuntut Janji Orde Baru, Bertarung demi Demokrasi dan lain-lain, dibredel, dibumihanguskan hingga disembunyikan dari peredaran, demi memperkuat posisi Raja Soeharto.

Tindakan semacam ini tidak sesuai dengan visi mencerdaskan kehidupan bangsa rakyat Indonesia. Lebih mirip seperti wanita yang menghapus seluruh isi chat di aplikasi chat messengernya, agar tidak terlihat salah di mata pacarnya. Sehingga, hukum “wanita selalu benar” bisa kembali dipergunakan.

Hal-hal ini telah membuat hati saya sakit, merasa seakan telah dikhianati Perpusnas RI. Sampai sekarang, cuma kenangan-kenangan buruk itu yang saya lihat ketika mengingat Perpusnas RI.

Saya lupa dan sama sekali tidak ingat, kalau sebenarnya ada juga kenangan manis yang saya lalui bersama dengannya. Termasuk kenangan manis dimana Perpusnas RI membantu saya mencari referensi Skripsi.

Mungkin, saya baru akan kembali mengingatnya, saat saya merindukannya. Semoga kartu keanggotaan saya masih diterima. Karena sepertinya tidak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s