Basa-Basi Tahunan

Khutbah 45 menit tentang segala makna “kemenangan” di hari lebaran berakhir. Para jamaah membentuk barisan dan bersalam-salaman. Kenal atau tidak, yang penting telapak tangan masih sempat untuk saling menggenggam. Bibir sedikit bercakap mengucap permohonan maaf. Disusul dengan pelafalan dua kata: lahir dan batin.

“Mohon maaf lahir dan batin”.

Hingga saat ini saya masih belum mengerti apa makna lahir dan batin dalam tradisi lebaran di tempat saya tinggal. Dalam pikiran saya hingga saat ini, lahir dan batin maknanya mirip dengan fisik dan psikis atau jiwa dan raga. Keduanya sama-sama merupakan unsur utama dalam diri manusia.

Lahir, fisik dan raga adalah penampakan nyata dari diri manusia. Kasat mata. Bisa disentuh. Rasa sentuhannya, berbeda di setiap bagian. Ada yang kasar, keras, lembut, licin dan ada juga yang kenyal. Sesekali bikin manusia terangsang. Rasanya? Tanya saja kepada yang sudah pernah merasakan.

Lalu batin, psikis dan jiwa. Ini lebih abstrak. Sejumlah orang bilang, asalnya dari akal. Pendapat lain menyebut, asalnya dari hati. Bicaranya seputar pikiran dan perasaan. Sebenar dan sesungguhnya, tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mata berpakaian saja kadang-kadang salah lihat. Tapi, banyak saja orang-orang sok tahu berkoar-koar tentang keniscayaannya. Bahkan sebagian dapat bayaran dari “bacotnya”.

Lantas apa arti frasa “mohon maaf” sebagai pendahulunya?

Kebetulan saya terlahir bukan sebagai ahli bahasa. Bukan kerjaan saya mencari-cari logika dalam keterhubungan kata di kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Saya juga bukan sejarawan. Tidak bisa memutar wawasan untuk menemukan asal muasal suatu perkataan.

Saya cuma seorang pemuda yang bercita-cita mendirikan kerajaan bawah laut. Bersama para putri duyung tak berselangkangan, di bawah kekuasaan dewa bersenjatakan trisula: Poseidon.

Kerjaan saya cuma mengotak-atik ketololan agar tampak pintar di mata orang. Sampai pada saatnya tiba, orang-orang akan tahu kalau semua kepintaran itu palsu. Hanya kantong kresek gratis yang membungkus otak busuk berbentuk acak. Menelusuri tujuan hidup dengan pedoman bisikan alam bawah sadar. Berhenti hanya bila kepala tersandung batu di bawah tanah. Jadi, jangan harap dapat apa yang kita tanyai apa-apa dari saya.

Kalau tidak salah dalam memori saya berjuta-juta tahun lalu, ritual saling genggam dan mengucap “mohon maaf lahir dan batin” itu tak pernah ada. Ucapan maaf antar sesama manusia hanya dilakukan dengan berbagi ekspresi peduli, diselingi dengan bahasa-bahasa tak bersuara.

Jelas saja begitu. Itu masa-masa dimana bahasa belum ada. Manusia –ada yang bilang manusia purba- masih hidup seperti kera. Katanya.

Simbol-simbol komunikasi masih belum terdokumentasi. Namun rasanya, isi dan pesan tetap mampu tiba dengan kondisi terbungkus rapi dan tanpa cacat sekalipun satu senti.

Alis bagian luar turun, mata sedikit sayu, bibir melengkung cembung, bahu melemas dan diakhiri dengan hembusan nafas yang agak tidak biasa.”Huft”. Begitu kalau orang zaman sekarang menggambarkannya.

Untuk sebagian yang tinggal di belahan timur dunia, telapak tangan beberapa kali menepuk bahu orang di hadapannya. Beberapa orang lainnya, melanjutkan ekspresi dengan gerakan memeluk lawan bicaranya. Pelukan hangat dan menenangkan. Bukan pelukan berbahaya yang berujung pada “kebuntingan”. Melihatnya, sungguh menenangkan. Seperti merasakan hembusan angin berkecepatan 1 tahun cahaya.

Gerakan-gerakan itu bisa melepas segala amarah yang sekian lama terpendam. Melenyapkan segala luka yang tersisa di hati lantaran berbagai kesalahan dan kebodohan dalam bersosialisasi di keseharian. Berujung pada sikap biasa tanpa ada rasa benci untuk menatap kedua mata lainnya. Oh, begitu indah dan haru masa-masa itu. Masa dimana saya hidup sebagai pohon rindang yang biasa jadi tempat berteduh.

Entah kenapa, nuansa kehangatan itu tak lagi bisa saya rasa. Barangkali, setelah 1935 kali bereinkarnasi, saya terlahir sebagai manusia buta yang hidup di era serba seribu. Jadi, cuma punya alam pikir tak bertuan.

Saya hanya mampu melihat sisi kelam dari setiap perbuatan. Termasuk perbuatan saling bermaafan di agenda tahunan sekelompok umat yang selalu merasa benar, tanpa ragu, meski tanpa mencari tahu kebenarannya.

Ingin berkeluh-kesah pada Hyang Maharwarbyasah, tapi merasa hina. Belum mampu membaca tanda-tandanya. Hingga akhir zaman, entah direinkarnasi keberapa, mungkin akan merasa terus terjebak pada lembah hasut sesat logika.

“Mohon maaf lahir batin” jadi saya anggap ritual tahunan belaka. Tak bermakna. Diperbuat hanya agar tak terlihat gila. Diucap cuma agar dibilang manusia. Siapa disangka, itu ada di hampir semua manusia.

Halah, semua ini cuma basa-basi belaka. Termasuk saya, beserta segala ketololan dan keangkuhan karyanya. Dasar manusia!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s