Pertemuan

Jakarta – Ada 13 manusia lugu. Sejak lahir, mereka dilahirkan di rumah sakit yang berbeda, ibu berbeda, ayah berbeda, dibantu oleh dokter yang berbeda, bidan yang berbeda, dan akhirnya memiliki bentuk dan rupa berbeda.

Pada sebuah kesempatan, Hyang Mahaasyik dan Hyang Mahagaul berkehendak. Melalui suara hati, desakan dan pesan orang tua, serta kisah-kisah heroik dalam selembar brosur, ke-13 manusia ini dipertemukan dalam satu sekolah. Mereka, diikat ke dalam sebuah hubungan pertemanan. Hubungan itu dikenal dengan istilah, “teman sekolah”

Awalnya, gue tidak tahu apa artinya teman sekolah. Hingga pada suatu ketika, sebuah peristiwa membuat gue sadar, apa arti “teman sekolah”, baik secara tersirat, maupun tersurat.

Peristiwa ini terjadi bertahun-tahun lalu. Saat itu, gue sedang melamun selama 12 menit lebih 37 detik di atas kloset kamar mandi.

Tiba-tiba udara berubah dingin, bulu kuduk gue merinding, detak jantung naik dan gue jadi bersin-bersin. Seorang malaikat bersayap cahaya datang menghampiri gue. Ia menjelaskan maksud kedatangannya ke dunia ini yaitu membawa pesan dari Hyang Mahakece tentang pengertian dan penjelasan mengenai “Apa itu teman sekolah”.

Dari berbagai penjelasannya yang panjang lebar itu, gue hanya bisa mengingat bahwa malaikat berkata:

“Hai pria desa, hitam, kurus dan tak bertulang, ketahuilah bahwa teman sekolah adalah sebuah hubungan pertemanan yang didasari atas kesamaan visi, misi dan guru dimana mereka bersekolah.

Teman sekolah belum tentu satu tongkrongan. Teman sekolah juga belum tentu satu tujuan. Dan yang pasti, teman sekolah belum tentu satu pasangan.

Manusia macam apa yang ingin berbagi nikmat bercinta dengan teman sekolah? Jadi, ingatlah, sedekat apapun engkau dengan teman sekolahmu, mereka tak akan rela meminjamkan pacarnya demi kamu.

Namun jangan kau lupakan juga, hai engkau, pria desa, hitam kurus dan tak bertulang, teman sekolah adalah orang yang selama sekian tahun, menjadi pengisi kebosanan dan penghibur lara di kala guru bertutur-tatar-teter tentang materi tai kucing dan petuah eek kambing.

Karena itu, bila pada suatu ketika kau diberi kesempatan untuk bertemu mereka, jangan sia-siakan. Nikmatilah waktu berharga itu, meski kau tak bisa banyak berkata-kata, jadikan momentum itu sejarah yang tak akan kau lupa”

Dalam hati, gue langsung komentar dalam hati: Anjeer lebay banget tuh malaikat. Ngomongnya mellow banget. Lagian kurang kerjaan banget, orang kayak gue aja didatengin. Kan gak penting.

Huft, tapi apa daya. Mau ngeluh kaya apa juga nasi udah terlanjur jadi bubur dan mantan udah mau nikah sama mantannya. #eh. Malaikat udah terlanjur datang dan pergi lagi.

Setidaknya, malaikat sudah memberi nasihat yang bikin gue tahu apa itu teman sekolah. Nasihat itu pula, yang bikin gue gak bisa nolak ajakan Bukber dari teman MTs gue.

Meskipun, alasan sesungguhnya gue tidak nolak tawaran itu adalah karena ………………….

Lahacia.

***

Beberapa hari kemudian, 03 Juli 2016, rencana Bukber benar-benar terealisasi. Berkumpullah 13 manusia lugu yang gue maksud di paragraph pertama tadi.

Mereka semua saling berbincang dan berbasa-basi. Sayangnya, perbincangan, masih terbagi pada kelompok-kelompok tertentu. Kurang menyeluruh.

Bahkan, sesekali, ada satu orang yang terdiam karena tak masuk dalam perbincangan mana pun. Untungnya saat itu ada satu orang lainnya yang mengajak bicara orang tersebut.

Hingga pada suatu ketika, setelah pindah ke sebuah warung kopi bangsawan, tempat para “pembunuh” petani kopi di seluruh penjuru tanah air bersarang, satu dari tiga belas orang manusia lugu itu mulai bercerita mengenai kisah hidupnya.

Itulah, satu-satunya momentum dimana ke-13 manusia tadi berbincang-bincang bersama. Meski model komunikasinya cenderung satu arah, menurut gue, itu lebih baik daripada ada yang diam karena tak diajak bicara.

Menurut gue, yang membuat perbincangan ini melibatkan semua orang adalah topik. Ya, topik perbincangan kala itu adalah percintaan.

Memang betul, kesamaan nasib membuat hubungan antar sesama insan bertambah erat. Dan di usia mereka yang telah memasuki masa quarter life crisis, pernikahan percintaan adalah topik paling Hot untuk dipergunjingkan.

Buktinya, satu jam lebih perbincangan berlangsung dengan amat seru.

Kisah demi kisah terus mengalir deras, bagaikan banjir bandang Sibolangit yang merenggut 19 nyawa tak bersalah.

Tanggapan demi tanggapan terus mendera seperti hujan es yang terjadi di Aceh bulan Mei lalu.

Air mata, tangis, tawa, dan canda, datang bergantian, tak tentu, layaknya hujan di bulan Juni yang menunggu sore untuk berhenti

Sayang, ujung-ujungnya yang jomblo tetap jomblo, yang punya pacar tetap nunggu dilamar/melamar. Lol.

***

Siapa sih ke-13 manusia itu? Mereka sekelompok orang yang atas kehendak Hyang Mahakece, pernah mengenyam pendidikan pada salah satu sekolah menengah pertama negeri berbasis Madrasah di bilangan Jakarta Selatan. Mereka berada satu sekolah dan menjadi teman satu angkatan sejak 12 tahun lalu hingga 9 tahun lalu.

Waktu yang cukup panjang (seharusnya) untuk membuat gue termotivasi agar cepat lulus kuliah. Sayang, kenyataan tak sesederhana memasukan tai ke dalam lubang WC.

Back to topic

Ke-13 orang ini merupakan orang dengan karakter dan tipikal berbeda. Ada yang pendiam, pemalu, pembacot, penipu, pencari sensai, penjahat, bahkan, ada juga yang menjadi pemuja rahasia.

Gue pribadi, tak punya kapasitas cukup untuk menilai orang-orang ini dari kacamata pribadi. Namun, gue punya hak untuk menuangkan penilaian subjektif gue ke dalam sebuah narasi kecil ini. Narasi untuk mendeskripsikan, satu per satu dari 13 orang yang sebenarnya, “Gak deket-deket amat”.

WhatsApp-Image-20160703.jpeg

AW

AW ini cowok paling kanan yang berkacamata dan mukanya gak jelek-jelek amat, juga gak ganteng-ganteng amat. Tapi, di antara cowok lain yang ada dalam pertemuan tersebut, AW adalah cowok yang paling flamboyan. Kadang-kadang ngeselin sih, kalau liat dia lagi beraksi. #siul2cuek

Menurut gue, AW memang tidak banyak berubah. Sejak di sekolah, hingga tahun-tahun berikutnya, mulutnya memang selalu “manis”. Dia pandai bergaul dan juga pandai mempengaruhi orang lain. Masalahnya, kalau sudah tidak suka sama orang, kata-katanya pedas dan wajahnya sinis. Beberapa kondisi, membuat dia susah diajak bercanda. Namun, humornya tak jarang menimbulkan gelak tawa.

MRR

Ini manusia paling besar di antara 13 manusia lain yang datang dalam pertemuan. Orang yang suka mencari sensasi dan perhatian. Kadang-kadang, sering buat kesal. Omongannya besar. Barangkali, karena pita suaranya berada di perutnya yang juga besar.

Tapi, di balik semua sikapnya itu, ada satu hal yang patut dihargai. Kadang-kadang, usaha untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama cukup baik dan tinggi. Meskipun, gak jarang juga “kepleset” dari peduli, ke unjuk gigi. Yah, udahlah, paling enggak, ini salah satu orang yang sering nanya “nyet, lu udah di Jakarta?”

AS

Wanita yang baru gue ketahui, ternyata adalah seorang guru. Wah, itu cita-cita yang gue telah tinggalkan sejak lama. Bukan karena tidak berharga, melainkan karena gue sadar profesi itu terlalu berharga untuk manusia hina seperti gue. Gue tak akan mampu menanggung beban dan tanggung jawab untuk seorang guru. Halah.

Tapi, kok kayaknya dia ini lebih sering pesimis daripada optimis. Terus lagi, AS juga kayaknya sering panik dan cemas. Hmm, mungkin karena emang banyak pikiran. Meski begitu, dibanding dengan wanita lainnya, sepertinya dia tipikal wanita yang peka dan tidak neko-neko. Entahlah, namanya sok tahu.

YR

Cowok satu ini, dulunya gue anggap “gak cowok banget”. Tapi, seiring tahun berganti, kok dia jadi kelihatan lebih cowok? Hingga kemarin akhirnya, gue sudah coba memaksa untuk mengembalikan pandangan kalau YR itu gak cowok banget. Tapi ternyata susah. Setelah dipaksa dan ditarik sekuat tenaga, pandangan itu tetap tidak kembali.

Ada dua kemungkinan. Pertama, gue memang sudah berpikiran lebih adil. Atau kedua, YR memang sudah lebih cowok daripada sebelumnya. Fix, gue pilih yang pertama.Oh iya, di sisi itu, YR ini sepertinya manusia dengan tingkat “pilih-pilih teman” paling tinggi di antara yang lain.

ZH

Ini cewe, kayaknya lebih pendiam dari masa sekolah dulu. Entah karena memang jadi lebih pendiam atau karena ada kondisi yang berubah dengan hubungan pertemanan dia dengan anak lain dalam pertemuan kemarin.

Bukannya seingat gue ZH dulu agak cerewet. Terus, suka gak jelas juga. Misalnya, goyangin kepala sambil memandang ke atas dan menggerutu “grrrrrrrr”. Aneh dah pokoknya, tapi ya kadang-kadang lucu. Air mukanya juga serius mulu, kayak kurang piknik. Atau kebanyakan piknik?

Halah, namanya sok tahu. Bisa aja gue emang gak tahu banyak tentang ZH, karena selama pertemuan jug ague jarang ngobrol dengan dia. Nah, kalau begitu, setelah ini gue harus banyak ngobrol dengan dia biar lebih tahu, lewat chat juga gak kenapa dah. Lol.

MH

Oke, gue kenal dia lebih lama dari pada yang lain. Soalnya, gue temenan sama dia dari MI. Ini orang emang dari MI dulu, udah pinter. Gak normal pinternya. Terbukti juga, setelah lulus MTs, SMA sama kampusnya adalah tempat-tempat favorit. Buset dah.

Dulu waktu kelas lima MI, gue saingan sama dia masalah rangking-rangkingan. Satu kali gue jadi rangking satu dan dia rangking dua. Setelah itu, gak pernah lagi dan lima besar aja susah gue dapetin. Sekarang, meskipun secara kuantitas gue kenal dia lama. Kayaknya secara kualitas, gue juga udah gak nyambung lagi sama dia. Tapi sedikit banyak gw masuk MTs juga dipengaruhi sama bajingan satu ini. Lol.

DN

Di sebelah kiri MH, ada DN. Ini orang kurang ajar. Soalnya, tetangganya itu teman MTs nya, tapi kalau ada acara-acara bukber kayak kemarin, teman MTs sekaligus tetangganya itu gak diajak. Kan kurang ajar, padahal gue kangen sama tetangganya itu. Sayang, gue gak punya nomornya.

Selama pertemuan kemarin, dia cewek yang datang paling awal. Tapi sayangnya, dia juga cerewet. Cuma entah kenapa, seinget gue DN itu kalau ngomong gak bisa direm. Mulutnya cablak. Tapi kok, kemarin dia berlagak menjaga-jaga ucapannya seolah biar gak menyakitin perasaan orang lain? Aduh, dunia yang aneh.

AND

Nah, kalau yang satu ini, kayaknya emang dari dulu anaknya begitu-begitu aja. Ya mukanya gitu-gitu aja, tingginya segitu-segitu aja, ya pokoknya dah, semua begitu-begitu aja. Gak banyak yang berubah.

Dulunya, ini orang gayanya tomboy. Terus, waktu di pertemuan kemarin ada cerita sedih, lah kok dia paling pertama nangis. Ya ilah, kan gue gak jadi nangis gara-gara dia udah nangis duluan. Nanti malah dibilang ikut-ikutan. Gak asik kan. Lol.

MS

“Kembang Desa”-nya MTsN 1 ini, tingginya belum nambah. Gue prediksi, tingginya cuma nambah 2 sentimeter sejak 12 tahun lalu. Mungkin waktu SMA, dia bawa tas berat-berat. Makanya, tulangnya gak bisa panjang lagi.

MS ini juga cewek yang cerewet. Ini anak, perasaan dari dulu juga paling rempong kalau diajak bukber. Banyak maunya. Tapi ya untungnya, dia gak cerewet waktu cowok-cowok pada ngerokok. Meskipun, waktu belum booking tempat dia doang yang minta tempat di area bebas asap rokok.

AR

Jujur, sebenarnya gue gak begitu dekat sama ini orang. Tapi entah kenapa, gue bisa respect sama dia. Kayaknya, dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, AR jadi lebih pendiam. Atau mungkin, itu karena kisah cintanya, yang akhirnya membuat dia jadi lebih diam dari biasanya? #eaaa

Gue sempat merhatiin, wajahnya berubah serius kalau udah ngomong soal kisah cintanya. Awalnya, gue kira nih orang keren banget, bisa menyembunyikan rasa sakitnya dikhianati. Eh, menjelang dini hari, waktu ada yang nanya tentang ceritanya dia sama mantannya, mukanya langsung berubah serius. Seolah, saat bercerita, ada dendam membara dalam hatinya. Duh, ternyata belum ikhlas juga ya bang? Haha.

MEW

Lah, ini orang perubahannya paling drastis, secara kasat mata. Sekarang, dia lebih kurus dan kantung matanya lebih hitam. Cara berpakaiannya urakan, lebih cocok dibilang preman parkir daripada mahasiswa psikologi. Kalau ngomong, kadang-kadang nyakitin, kadang-kadang sok tahu.

Setahu gue, dari 30 hari puasa, dia Cuma bolong dua. Eh salah, cuma puasa dua kali. Emang gila ini anak. Waktu dikatain Kafir, dia malah bangga ngomong kalau dirinya “Kafir Toleran”. Duh, ini anak benar-benar gak jelas.

MIA

Gue bingung julukin dia apalagi. Gue mau julukin jenong karena jidadnya lebar, tapi kenyataannya, sekarang ada yang jidadnya lebih lebar daripada dia. MIA ini teman gue sekelas gue dari kelas satu SMP. Biasanya, kalau gue balik ke Jakarta, dia masuk di daftar list siapa orang yang gue ajak ngopi waktu di Jakarta.

Tapi, ini orang kadang-kadang emang ngeselin. Pikirannya negative thinking dan penuh curiga terus. Tapi, selalu berusaha dinetralisir dengan bilang “Gue sih mikir positive aja”. Halah, kampret emang. Belum lagi kalau ngomongin orang di belakang. Omongannya pedes-pedes.haha.

MBN

Nah, kalau yang satu ini, udah paling bajingan. Sebenarnya gue gak tahu ini siapa. Bukber-bukber sebelumnya, dia gak ada. Tiba-tiba, bukber kemarin dia muncul kayak tamu gak di undang. Itu, dia duduk di posisi dia duduk paling kiri. Giginya ada yang potek, biasa dipanggil ompong. Lebar jidadnya, udah ngelebihin lebar jidad MIA.

Kalau kata salah satu orang di antara 13 manusia lugu itu, MBN pakaiannya kayak driver. Lagian emang gue perhatiin emang begitu. Tapi, asal lu tahu, dibalik tampilannya yang begitu, dia punya pacar. Ya, semoga aja sih bisa lanjut sampai nikah. #siul2cuek.

Sedangkan Gue?

Gue yang jadi tukang foto mereka. Kebetulan aja, biar jumlah orang di foto ganjil, karena kesempurnaan genap hanya milik Allah SWT semata. gue bersedia jadi tim dokumentasi.

Terus, udah jadi tukang foto ngapain juga pake ditulis? Ya masalahnya begini, pertama, gue cuma bisa nulis dan kedua, selalu ada udang di balik batu. Jadi, ya inilah jadinya. Semoga menikmati dan jangan masukin dalam hati. Kecuali kamu.

Bye, see you on top. J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s