Migrasi!

Besok sudah tanggal 4 Juni 2016. Artinya apa? Sudah satu tahun lebih blog pribadi ini “Nganggur”. Kalau dihitung-hitung, selama 1 tahun, 1 bulan kurang 1 hari, blog ini sama sekali tidak memiliki perkembangan.

Yup. Saya mah begitu orangnya. Kalau bahasa gaulnya, moody. Mengerjakan sesuatu tanpa keikhlasan. Dengan kata lain: tidak konsisten. Padahal, kalau mau jadi penulis –katanya orang-orang— harus ikhlas dan konsisten. Terus menulis tanpa rasa jenuh. Tuangkan segalanya dalam karya. Bullshit. Ternyata teori tidak semudah menginjak tai kucing.

Begini. Selama 1 tahun 1 bulan kurang 1 hari ini, memang blog ini tidak aktif. Tapi, bukan berarti saya tidak menulis sama sekali dalam rentang waktu tersebut. Kenyataannya, ada hal-hal lain yang membuat blog ini tidak aktif. Mau tahu? Sebenarnya tidak mau tahu juga tidak masalah. Sebab, saya tipe manusia yang memiliki keinginan untuk dianggap misterius, penuh rahasia dan tak banyak bicara. Ingat! Cuma keinginan.

Ada banyak hal yang patut saya kambing hitamkan atas kekosongan blog ini. Tuntutan kerja, kuliah, skripsi, Sediksi, sampai tuntutan untuk ngopi. Ada satu alasan lagi sebenarnya. Tapi, sudahlah, itu masa lalu dan tak perlu diungkit-ungkit. Gue kudu ikhlas, gaes!

Nah, alasan-alasan ini membuat saya berpikir ulang: “karena sudah lama vacum, harus ada perubahan pada blog ini”. Namun, sulit juga memikirkan perubahan perubahan macam apa yang harus dilakukan agar blog ini berbeda dengan blog sebelumnya.

“Aha!!!”

Tiba-tiba saja saya kepikiran dengan salah satu kata yang menurut saya, identik dengan karakter penduduk di tengah fakta geografis negeri ini: Migrasi!

Kata orang kebanyakan, berpindah-pindah tempat itu tidak baik. Tapi, kata orang yang lebih banyak daripada orang kebanyakan, berpindah-pindah itu menambah pengalaman. Di antara kedua pilihan tersebut, saya lebih sepakat dengan pilihan kedua.

***

Migrasi. Ya, ya, ya, migrasi. Dalam konteks sosial, migrasi berarti pindah dari satu daerah ke daerah lain. Masalahnya, di dunia maya macam internet ini, migrasi tidak semerta-merta bisa diartikan seperti itu. Apalagi, buat personal blogger  macam saya.

Untuk itulah, dengan segenap tekad untuk mewujudkan sebuah kerajaan di bawah laut, saya berdaulat, migrasi di dunia blogger non-komersil (amin) macam saya ini, berarti pindah dari satu alamat, ke alamat situs lainnya.

Singkatnya, blog saya yang lama, yaitu http://kisahmengajar.wordpress.com, saya tinggalkan dan sekarang saya berpindah ke alamat https://merzaw.wordpress.com.

Bro, gue mau tanya, kalau cuma ganti alamat, apa bedanya?” tiba-tiba seorang kurcaci dalam alam pikir saya bertanya.

Ndasmu!” saya balas dengan nada agak tinggi. “Kalau orang lagi ngomong, dengerin dulu. Jangan lu potong, dongo!”

“Oh, oke bro. Sorry,” kepala mengangguk dan tangannya kembali di lipat di atas meja.

“Maaf adik-adik, mari kita lanjutkan!”

Jadi begini, ada segudang alasan saya memilih untuk bermigrasi. Alasan paling utama, karena nama Kisah Mengajar buat saya terlalu berat untuk digunakan. Dengan kapasitas saya yang standar-standar aja, saya tidak mau tertimpa musibah lantaran menyandang nama yang –kata orang-orang dulu— ketinggian.

Kisah mengajar? Men! Ini sudah zaman kapan? Dibandingkan dengan saya yang apalah ini, lebih banyak orang lain yang memiliki pengalaman dan kisah lebih bermanfaat bagi masyarakat, nusa dan bangsa. Bukan begitu?

Oleh karena itu, daripada tetiba saya jatuh sakit dan tidak ada (lagi) yang merawat, lebih baik saya ganti nama Kisah Mengajar dengan akronim dari nama saya sendiri: merzaw. Hitung-hitung, pergantian nama ini membuat saya lebih lega karena akhirnya, peluang saya untuk terkenal jadi lebih besar. Yes!

Di sisi lain, pergantian nama ini juga terikat dengan masalah kejiwaan yang saya hadapi.

Lu gila bro?” suara kurcaci itu datang lagi.

“Cangkemmu cuk! Meneng o!”

“Oh, oke bro. Sorry,” sumber suara dari alam gaib itu kembali bungkam.

“Maaf untuk ketidaknyamanan saudara, mari kita lanjutkan!”

Begini saudara-saudara –yang sebenarnya saya tidak anggap saudara. Selama ini di mata saya pria dengan kebiasaan selfie itu bikin geregetan, sok ganteng, sok unyu dan sok segala-galanya:

Fotonya menggambarkan alis mata yang terangkat sebelah, bibir dibentuk seperti Will Smith saat menjadi aktor utama dalam film Hancock, wajah diperhalus dengan salah satu aplikasi canggih di smartphone, kemudian foto itu diupload di instagram. Hampir semua isi di instagram itu, foto-foto dirinya saat sedang selfie.

Men, dimana seni berinstagram lu kalau itu akun, isinya cuma muka lu doang?

Eits, itu pendapat awal saya untuk para pria tukang selfie. Hingga, pada suatu ketika, dimana matahari mulai bolong, saya membongkar foto-foto di komputer (FYI, komputer saya dulunya laptop, tapi karena monitor, keyboard dan mousenya rusak,  jadi saya belikan monitor bekas seharga Rp 300 ribu. Merknya LG ukuran 17 inch. Dan, TADAAA! Jadilah komputer), ternyata banyak ditemukan foto-foto selfie saya sendiri.

Wow! Ini mengejutkan. Sebuah penemuan besar bagi saya di tahun ini. Ternyata, di kala kebencian terhadap pria tukang selfie itu terus mengakar hingga ke rambut kelamin, secara tidak sadar saya adalah orang yang patut saya benci.

Dari situlah egoisme saya merasa terancam. Seolah-olah, dia sedang menerima siksaan batin seberat siksaan yang didapat para comic, saat leluconnya tak bersambut tawa.

“Haruskan saya membenci diri saya sendiri?”

Teeeet!!! Jawabannya adalah “YA!”.

Saya harus membenci diri sendiri, saya harus membenci diri sendiri dan saya harus membenci diri sendiri. Apapun alasannya, saya harus membenci diri sendiri. Saya harus membenci diri sendiri, apapun alasannya (Agar lebih mudah dipahami, silahkan diucapkan dalam hati dengan irama takbiran).

Oke, dogma untuk membenci sendiri akhirnya berhasil menumbuhkan rasa benci menjadi-jadi. Oh my gooosh, sebenci itunya saya ke diri sendiri, sampai-sampai saya harus mati-matian memotong kuku di tangan kanan saya yang mulai panjang. Di tangan kiri? Maaf, sepertinya untuk saat ini pembahasan berbau “Kiri” harus disembunyikan.

Begitulah saudara. Akhirul kata, wassal……………

“Bro, curhat lu belum selesai”

Jamput, gue ngerti asu!

Back to the topic! Kebencian terhadap diri sendiri ini, menyadarkan saya akan sesuatu: Sudah waktunya, saya bangkit dan maju, menatap masa depan yang lebih cerah, sambil terus bergandengan tangan dengan sesama.

Artinya apa? Artinya, segala sesuatu di dunia ini, diatur oleh kehendak Hyang Mahakuasa.

***

Maaf sebelumnya saudara-saudara. Blog saya barusan dibajak sama sisi gelap dari diri saya. Dia berasal dari alam bawah sadar. Makanya tulisannya ngawur dan bertele-tele, karena logikanya memang kacau dan tidak karuan.

Sekarang, saya sudah berhasil menghentikan perbuatan jahat dari si pembajak tak bertanggung jawab itu. Ini sekarang, saya yang asli. Untuk meluruskan semuanya, saya akan jelaskan maksud dari artikel ini dalam satu paragraf.

Kenapa saya bermigrasi?

Artikel dan judulnya ini, saya tulis sebagai pembuka dan ucapan selamat datang ke alamat blog saya yang baru. Isinya jelas berbeda. Tulisan-tulisan di blog sebelumnya, terlalu serius dan menuturi. Seolah-olah saya ini orang hebat. Padahal, saya mah apa atuh. Nah, di alamat baru ini, saya mau mencoba untuk lebih santai dan tak menggurui dalam menulis. Pergantian nama Kisah Mengajar menjadi Merzaw, semata-mata dipilih karena saya agak narsis. Itu saja. Jadi, selamat datang dan selamat menikmati. Semoga blog ini bisa terus konsisten. Cayoo!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s