Pengalaman Bersama ISIS dan Cerita Bersama Kawan

Baru satu pekan rasanya, saya merasakan pengalaman mendebarkan saat melakukan peliputan di tempat berisiko tinggi. Ya, tepat pada Sabtu, 28 Maret 2015 lalu, saya masuk ke sebuah panti asuhan di Malang yang disinyalir kuat memiliki hubungan erat dengan sebuah kelompok Islam radikal. Malang, rupanya menjadi ‘sarang’ bagi kelompok-kelompok semacam ini, Islamic State Iraq and Syiria (ISIS) atau dituliskan Harian Kompas sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).

Satu pekan berlalu, ingatan mengesankan itu masih ada dalam benak saya. Antara rasa bangga karena mampu melakukan liputan tersebut, atau juga kegelisahan karena rupanya pengalaman tersebut membuat saya besar kepala. Tapi, yang paling mengesankan lagi adalah ketika kembali bercengkerama bersama kawan-kawan di kelompok saya dulu. Sebuah kelompok kecil, terdiri dari mahasiswa yang dulu biasa-biasa saja, namun kini melejit menjadi mahasiswa yang “siapa mahasiswa psikologi yang tak kenal mereka?”.

Ada kerinduan saat menjalani perbincangan santai dengan mereka. Dimana saat itu, terus dan terus muncul keinginan untuk menjalani lagi, ‘hidup’ di Malang bersama mereka. Menjalani aktivitas sebagai mahasiswa seutuhnya. Berkutat dengan tugas kuliah, laporan magang, skripsi, kejenuhan cara ajar dosen, sampai bobroknya sistem perkuliahan di kampus sendiri.

Kilas balik, saat dimana hanya ada segelintir orang yang tak pernah menonjol di kampus mereka. Memulai perbincangan agak berbobot, sampai muncul ide untuk bergabung dengan para senior yang sudah memulainya lebih dulu. Ditemukanlah nama “Meja 13” yang saat itu saya ingat sekali, ada nomor 13 di atas meja yang kami tempati. Meja itu milik sebuah kafe di Jl Kalpataru. Heiss Cafe namanya, kalau tidak salah.

Singkat kata, karena ada kemiripan konsep dan terbentuknya kelompok “Meja 13” tidak lepas dari dorongan para senior, akhirnya diputuskan bahwa kami akan melanjutkan kiprah para senior untuk melanjutkan nama “Secangkir Kata”.

Perlahan, perlahan dan perlahan, kami jalani ini dari sekelompok orang kecil yang konsisten. Motifnya mungkin tidak untuk membudidayakan nama “Secangkir Kata”, namun lebih pada kumpul bersama. Seingat saya, sampai satu tahun lamanya, tidak lebih dari jumlah jari tangan kanan, orang-orang yang aktif dan konsisten menjalani kehidupan sebagai bagian dari komunitas (tanpa perjanjian tertulis disepakati kami menjadi komunitas) ini.

Hampir jenuh menjalani kehidupan komunitas yang hidup tanpa gebrakan, kami pun akhirnya mendapatkan pencerahan, dimana satu per satu orang dari kelompok kami datang untuk belajar (re: bermain) di komunitas ini. Kebanggaan demi kebanggaan muncul, saat berpikir rupanya kami bisa menjaring orang-orang semacam ini. Di sisi lain, kami menertawai diri sendiri karena toh orang-orang yang dikatakan “baru” ini, adalah teman-teman lama kami. Mereka hanya bergabung karena ikatan pertemanan, bukan semangat menghidupi komunitas.

Tapi toh apa masalah, pikir saya pribadi, toh komunitas ini masih terus berlanjut dengan kekolotannya yang sudah mengakar sekian tahun lamanya. Kami tetap berdialektika, menggodok logika dan didorong kemauan untuk terus bercengkerama di atas sebuah meja, dimana pun itu tempatnya.

Gagasan demi gagasan untuk mengembangkan sayap muncul, keluar, terkumpul, mengasap dan lenyap. Saat itu, malah kami menertawai lagi apa yang telah kami lakukan dengan gagasan itu. Hingga tibalah pada suatu hari, entah apa yang menjadi alasan, akhir tahun 2013 silam muncul satu gebrakan baru dari komunitas ini. Sebuah wadah berupa blog untuk menuangkan segala gagasan hasil diskusi yang kami miliki. Dan saat itu, dengan memanfaatkan jaringan antar personil anggota, satu per satu wajah baru mulai tampak.

Rutinitas, konsep dan sistem diskusi yang selalu mengalami perputaran ini terus menerus bergelut dalam jaringan persekawanan kami. Besar-besar dan semakin besar, hingga saat merasa sudah ‘lanjut usia’, kami mulai berpikir apa yang biasa seorang organisatoris sebut “regenerasi”. Lagi, kami rasakan perbedaan ketika muncul satu per satu wajah anyar dari golongan yang berada di bawah ‘strata’ usia. Disitu, satu per satu gejolak muncul.

Dari ‘lubang’ yang lain, kami lihat bahwa komunitas kami sudah mapan. Namanya sudah menggema luas, bahkan sampai ke luar universitas. Akan tetapi tidak juga dipungkiri, bahwa sayap kami membuka terlalu lebar, sampai kami keawalahan. Ada suatu daya, dimana keresahan kian muncul menjadi-jadi. Menyisakan sedikit pertanyaan yang mungkin sampai saat ini tak kunjung terjawab.

Besar, besar dan besar, kami berubah jadi orang-orang besar di kampus. Tidak, lebih cocok jadi orang-orang terkenal. Karena apa? Tidak dipungkiri karena nama komunitas kami yang mulai besar. Satu per satu orang berdatangan, meminta bantuan kami untuk ‘mengajari’ apa arti satu per satu ‘istilah’ dalam jurusan yang kami geluti. “Wow!!” ini satu perubahan yang besar, dimana kami saat itu menjadi orang-orang besar yang dipandang rendah hati dan tak menongak.

Perhatian dosen satu per satu juga mulai terpusat pada kelompok kami. Sampai pada suatu saat ada dosen “keren” muncul di tengah kami memberikan suasana segar. Dan lagi-lagi, “Wow”, bermodalkan nama komunitas dan kehadiran dosen keren ini, forum diskusi yang kami geluti bisa mengumpulkan sampai lebih dari 20 orang untuk berpartisipasi di dalamnya. “Ini sebuah prestasi” pasti itu yang kami pikirkan saat melihat suasana tersebut. Meskipun tidak dipungkiri, pasti lebih banyak yang menilai kalau kegiatan komunitas jadi lebih efektif dan intim ketika hanya dihadiri oleh kelompok kecil.

Bermodalkan nama besar dari sebuah komunitas, diiringi dengan upaya setiap individu untuk beraktualisasi, sekarang masing-masing dari kami memilih jalannya sendiri-sendiri. Meski tetap berkomunikasi antar sesama, walaupun tidak seintens dan seintim dulu, nama “Secangkir Kata” tetap lekat dalam ingatan kami.

Kedewasaan, menjadikan individualitas menjadi wajar. Saya pikir, semua melumrahkan hal ini dan hal ini pun memang seharusnya sudah dilumrahkan. Saya sendiri demikian, sibuk menjalani urusan ‘perut’ sendiri dibandingkan berpikir keras untuk menghidupkan lagi komunitas. Buktinya, blog yang selama ini saya kelola sendiri selama beberapa bulan jadi ‘tidak sadarkan diri’. Hilang begitu saja.

Memang masih ada segelintir orang yang semangat untuk menghidupkan lagi forum diskusi kami. Namun nampaknya, kami sendiri yang selama ini menjadi “inti” dari forum diskusi ini tidak bisa lagi menjalaninya. Tidak lain, karena sesuatu yang kami lumrahkan tadi. Bahkan sekarang, blog komunitas kami saja sudah terhapus, karena terjebak dalam masa transisi untuk menuju konsep yang lebih matang. “Mangkrak” dan akhirnya tak lagi bermanfaat.

Kini, tersisa pertanyaan yang seperti saya tulis di atas, mungkin tidak bisa kita jawab. Mau dibawa kemana komunitas ini? Akankah terus kami hidupkan? Biarkan hidup dengan orang-orang yang mau untuk menghidupkannya? Dibiarkan menjadi sisa-sisa dalam kenangan? Ataukah buang jauh-jauh dari ingatan agar tidak mengganggu jalannya masa depan?

Apapun pilihannya, yang pasti bagi saya sendiri nama “Secangkir Kata” merupakan sebuah kelompok yang fenomenal bagi perjalanan Program Studi Psikologi FISIP UB, yang tahun ini mencapai usia satu dekade. Di dalamnya, ada orang-orang hebat yang tak peduli tentang apa yang mereka dapatkan dalam menghidupi komunitas, melainkan hanya apa yang mereka lakukan untuk membiarkan komunitas ini tetap hidup.

Terima kasih, untuk orang-orang hebat yang sempat konsisten menjalani kehidupan santai ala “Secangkir Kata”. Michael Gibran, Ardy Destu, Angga Prasetyo, Henry Yuli, Ulya Rahmanita, Iva Wuri Marlinda, Auzan Apta, Absharina Imamah, Icha Kusumadewi, Ahmad Yani Ali, Olafiqih, Ismail Wibisono, Ria Ayu Wardhani, Laylatul Farah dan yang pasti, Risna Yanti Simaremare. Mereka semua orang-orang yang sempat “berkeringat” memikirkan keberlangsungan komunitas “Secangkir Kata”.

****

Kembali ke persoalan ISIS, topik yang sebenarnya ingin saya tulis dalam postingan ini. Siapa sangka, Malang merupakan sarang bagi kelompok Islam radikal yang digambarkan dalam video-video, memiliki karakter keras dan siap membunuh siapa saja meski itu muslim sekalipun.

Ini saya ketahui setelah melakukan liputan paska penangkapan tiga orang terduga ISIS di Malang pada Rabu, 25 Maret 2015 silam. Tiga orang ini merupakan jaringan dari panglima ISIS di Indonesia, Salim Mubarak Attamimi alias Abu Jandal. Ketiganya, diumumkan resmi menjadi tersangka pada Kamis, 26 Maret 2015.

Rabu saya menjalani libur, sehingga baru mulai melakukan peliputan soal ISIS pada Kamis itu. Saat itu, yang saya lakukan hanyalah menggali informasi dari warga sekitar yang menyaksikan penggeledahan di salah satu rumah tersangka dan panti asuhan yang dikelolanya. Berdasarkan peliputan tersebut, saya mendapat informasi kalau di Malang memang merupakan “lumbung padi” bagi ISIS. Sebagian besar teroris ISIS di Suriah, berasal dari Malang.

Di luar akurasi data tersebut, saya kembali mendapat informasi bahwa sejak dulu Malang mencatat sejarah sebagai pencetak teroris. Media tempat saya bekerja, merekap berbagai kejadian gerakan radikal di Malang dalam sebuah berita. Saat hangat-hangatnya berita ISIS tertulis, dibeberkan kalau sebenarnya aksi gerakan terorisme di Malang sudah ada sejak 1979.

Pada 1979, ada aksi perampokan yang dilakukan di IKIP Malang sebagai bentuk aksi pengumpulan dana perjuangan oleh kelompok gerakan Islam ini. Dilanjut pada 1984 dimana dua bangunan milik umat Nasrani yang ada di Malang, yakni Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik meledak. Dilanjutkan dengan aksi pengeboman di Candi Borobudur, Jawa Tengah pada 1985. Ledakan tersebut muncul saat seorang warga Malang kedapatan meledak bersama bom yang dia bawa, sebutan lain aksi bom bunuh diri.

Ada dua pelaku hidup dalam aksi peledakan disini, keduanya dulu sempat tinggal di Malang. Tambah lagi, bom di Borobudur ini didalangi oleh seorang warga Lawang, Kabupaten Malang yang konon katanya sampai sekarang belum tertangkap.

Tahun 2005 gerakan Islam Radikal kembali bergejolak setelah kabarnya seorang warga Malang terlibat dalam jaringan teroris dr Azhari. Dimana Azhari merupakan dalang dari peristiwa bom Bali pada saat itu. Kini, teroris yang ditahan di Lapas Lowokwaru itu sudah lepas tahun lalu.

Pada 2009, mulai tercium aksi Abu Jandal yang mengundang Abu Bakar Baasyir dalam sebuah jamaah pengajian. Hingga akhirnya, sekarang kembali digegerkan karena ada gerakan ISIS di Malang yang terbukti dengan penangkapan tiga terduga ISIS.

Sungguh mengerikan bila mengingat-ingat catatan sejarah ini. Dan parahnya, saya pernah masuk ke sebuah tempat yang diduga kuat menjadi bagian dari kelancaran ISIS di Malang, salah satu yayasan di kelurahan Pisang Candi, Sukun, Kota Malang yang ternyata dulu ditempati Abu Jandal, hanya untuk sebuah kepentingan peliputan.

Ada kekhawatiran besar setelah masuk ke dalam panti asuhan ini. Kekhawatiran tersebut, berupa anggapan kalau bakal ada orang-orang dari kelompok ini yang mencari tahu atau bahkan mengawasi gerak-gerik saya. Apalagi sampai mengawasi orang-orang terdekat. Meski itu bisa jadi hanya waham ketakutan yang sebenarnya tak akan terjadi, tetap saja pada dasarnya manusia akan takut bila masuk ke kandang buaya. Tapi, apa daya? Toh akhirnya sampai sekarang saya masih aman-aman saja. Percaya saja, bahwa kematian manusia bisa datang kapan saja. Kembali saya ungkapkan, di sisi lain saya bangga karena ternyata saya bisa masuk sampai sejauh itu.

Itu pengalaman mendebarkan, dimana tidak semua bisa menjalaninya. Tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi untuk buruh pena yang usia di dunia yang digelutinya masih muda. Tidak sampai satu tahun. Terlebih, saya juga masih mahasiswa.

Ya, saya masih mahasiswa. Mahasiswa yang terjebak dalam janji dan keadaan. Mahasiswa yang sampai saat ini, masih enggan kehilangan teman-teman mahasiswa seperjuangannya. Tapi, tak bisa juga kehilangan profesi ber-prestige tinggi. Mahasiswa yang sebenarnya, merindukan perbincangan santai di warung kopi, mulai dari curhat soal cinta-cintaan, gosip, sampai perbicaraan soal organisasi.

Kerinduan sebagai mahasiswa seutuhnya semakin meningkat ketika tadi malam, saya berkumpul kembali bersama teman-teman seperkawanan saya di Komunitas Secangkir Kata. Bukan perkumpulan tersebut yang buat saya rindu. Tapi, melihat sisa-sisa gebrakan yang dihasilkan dari komunitas ini.

Menuliskan kilas balik seperti cerita di atas, juga malah menambah kerinduannya. Saya ingin menjadi mahasiswa bebas lagi, dimana hanya ada tangung jawab dan janji yang mengikat kehidupannya. Tidak lagi terikat kepentingan lain, seperti mencari “rayap” yang akan menggerogoti saya sendiri.

Pengalaman demi pengalaman yang saya dapati saat berada di lapangan, mulai peliputan dengan tema yang ringan, sampai yang berisiko tinggi seperti ini memang berharga. Tapi, bagi saya akan lebih berharga lagi kalau cita-cita saya saat berada dalam dunia mahasiswa menjadi terwujud. Hidup di dalam lembaga yang semuanya menggodok kedewasaan, rupanya berasa nikmat. Himpunan Mahasiswa Islam, Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Kota Malang, serta yang sampai sekarang selalu terniang di benak, Secangkir Kata. Aduh, kerinduan ini kapan terjawab?

“Sudahlah nikmati saja, sedikit melow tidak masalah. Tinggal percaya dan berusaha, semua pasti ada jalannya,” bisik saya sendiri, menghibur diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s